Press Release: Photovoltaic Teknologi Penghasil Tenaga Surya (Listrik)

March 3rd, 2010 Posted in News
Senin, 01 Maret 2010 pukul 10:00:00
Photovoltaic Teknologi Penghasil Tenaga Surya (Listrik)
————————————————————————————-
Oleh Dewi Mardiani

Teknologi ini hemat, berkualitas tinggi, dan ramah lingkungan.

Energi surya merupakan sumber energi terbarukan yang potensial sebagai pengganti energi fosil untuk kelistrikan di Indonesia. Di negeri tropis seperti Indonesia, sinar matahari sangat melimpah, bahkan bisa dikatakan tak terbatas. Selain itu, energi surya juga ramah lingkungan, utamanya dalam upaya mengurangi emisi karbondioksida.

”Selain ramah lingkungan, pengembangan industri energi surya dapat menjangkau daerah pelosok, pasokannya tak terbatas, dan dapat langsung merupakan fotosintesis dan biomassa,” kata Menko Perekonomian Hatta Rajasa saat berbicara dalam seminar tentang teknologi photovoltaic yang digelar PT Surya Energi Indotama (SEI), anak perusahaan penyedia PLTS, PT Len Industri, di Jakarta, belum lama ini. Menurut Hatta, tenaga surya juga memiliki derajat kebebasan yang lebih independen dibanding energi berbasis nabati.

Saat ini, SEI dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menjalin kerja sama untuk mengembangkan energi terbarukan dari tenaga surya. Mereka menggunakan panel surya dengan teknologi photovoltaic (PV) yang hemat, berkualitas tinggi, dan ramah lingkungan.

Teknologi ini menggunakan peralatan semikonduktor penangkap sel-sel surya yang mengubah panas atau cahaya matahari menjadi energi listrik. Listrik yang dihasilkan bisa disimpan di dalam baterai (untuk PLTS, yang dilengkapi unit pengelolaan listrik yang mengatur pengisian baterai dari panel surya) atau controller (untuk kebutuhan rumah tangga). Nah, teknologi pengubahan cahaya menjadi listrik inilah yang disebut PV.

Untuk semikonduktor-nya tentu saja terbuat dari bahan yang mampu menyerap cahaya. Saat ini, ada bahan yang terbuat dari lapisan film tipis (thin film). Thin film dibuat dengan cara mendepositkan silikon dengan proses kimia ke lapisan yang sangat tipis seperti kaca, plastik, atau kertas logam.

Silikon tak berkristal untuk membuat thin film dikenal memiliki kemampuan tinggi dalam menyerap sinar matahari. Menurut Departemen Energi Amerika Serikat, silikon tak berkristal mampu menyerap radiasi surya 40 kali lebih efisien dibanding silikon berkristal. Ketebalannya sekitar 1 mikrometer dan mampu menyerap 90 persen cahaya matahari yang menerpa di atasnya.

Ada pula bahan yang terbuat dari kristal silikon tunggal atau majemuk. Bahan ini dibuat dengan hanya menggunakan pemecahan dari silikon murni.
Dari dua bahan tadi, ada generasi baru sel surya, yaitu DSC (Dye Solar Cell). DSC, yang mampu menyerap energi dari cahaya yang redup dan menyita ruang yang sedikit, merupakan alternatif dari dua generasi sebelumnya, thin film dan silikon.

Tepat untuk Indonesia
Thin film dinilai sangat efisien. ”Teknologi ini tak perlu mendapat pencahayaan langsung dari matahari, melainkan cukup dengan pencahayaan matahari yang minimal dan sedikit ruang,” kata Boon Chye Hoe yang memimpin pengembangan bisnis PV Thin Solar di Asia dan Australia.

Menurutnya, teknologi ini sangat tepat diterapkan di Indonesia, misalkan dipasang di atap. ”Thin film lebih murah. Memang, untuk instalasi fabrikasinya mahal.”

Hal senada dikatakan anggota Dewan Energi Nasional, Herman Darnel Ibrahim. Ia pun menilai, thin film tepat untuk Indonesia karena lebih murah, tahan suhu, mampu menghasilkan energi yang lebih besar, dan tak perlu sinar matahari langsung. Walau begitu, lanjutnya, DSC juga merupakan teknologi yang menjanjikan.

”Kita harus memikirkan ke depan dan mewujudkan tenaga surya dengan kapasitas gigawatt setelah tahun 2025. APBN tahun 2011 untuk listrik tenaga surya minimum 10 mwp sebagai percontohan dan pembangunan pabrik sel surya berkapasitas 50 mwp segera diwujudkan.”

Di Indonesia, PV sangat ideal diterapkan pada bangunan terutama di bagian atap, depan bangunan, dan bisa digabungkan dengan bagian bangunan lainnya.
Menurut peneliti bidang arsitektur di Balai Besar Teknologi Energi (B2TE) Serpong, Tri Harso Karyono, PV ideal digunakan dalam arsitektur karena dapat terintegrasi dengan bangunan. ”Selain menopang kebutuhan energi bangunan, PV diharapkan mampu menciptakan estetika pada bangunan.”

Pada bangunan, PV bisa diletakkan di bidang datar, horisontal maupun vertikal dengan arah sesuai sudut optimal penerimaan cahaya matahari. Ini adalah model PV rigid. Sementara jenis thin film memungkinkan diletakkan melekat dengan komponen bangunan berkontur apapun, termasuk bentuk melengkung. ”Thin film lebih fleksibel untuk komponen lentur sesuai yang dikehendaki. Ini menghilangkan keterbatasan arsitek dalam menciptakan bentuk.” ed: wachidah

sumber: republika

One Response to “Press Release: Photovoltaic Teknologi Penghasil Tenaga Surya (Listrik)”

  1. teknologi semacam ini yang perlu di kembangan sebagi alternatif BBM

Leave a Reply

viagra