Canggih Euy! Urban Farming di Bandung Pakai Energi Matahari

Canggih Euy! Urban Farming di Bandung Pakai Energi Matahari

Bandung – Canggih euy! Kata itu yang menggambarkan proses bercocok tanam di Buaruan Sehat Alami Ekonomis (SAE) P2L Riyadhul Jannah yang berada di Perumahan Demarekesh, Derwati, Kecamatan Rancasari, Kota Bandung.
Tidak membutuhkan Sumber Daya Manusia (SDM) banyak di lokasi urban farming ini sudah serba menggunakan teknologi dari mulai menyiram sayur yang dikendalikan menggunakan ponsel dan bisa dilakukan dari jarak jauh, hingga sumber listrik yang digunakan menggunakan solar cell atau dinamai solar farming.

Dengan menggunakan teknologi terbarukan ini, proses bercocok tanam di lokasi urban farming ini lebih efisien dan ramah lingkungan. Selain itu, dapat menghemat persediaan listrik nasional.

Teknolgi solar farming yang diterapkan di lokasi urban farming ini bekerja sama dengan PT Surya Energi Indotama atau anak perusahaan dari PT Len.

“Kita kolaborasi dengan peningkatan teknologi yang bekerja dengan PT Len dan beberapa tenaga ahli dari warga yang memiliki spesifikasi ilmu dan mengaplikasikan dalam pertanian,” kata DKM Masjid Riyadhul Jannah, Aston kepada detikcom, Kamis (14/10/2021).

“Kalau pertanian yang dulu hanya sekedar nyangkul dan semua orang bisa. Tapi bagaimana teknologi bisa diterapkan sehingga kesannya tuh kita sebut smart farming,” tambahnya.

Aston mengungkapkan, hanya melalui genggaman ponsel jaringan listrik yang menggunakan solar cell dan penyiraman sayuran bisa dilakukan, bahkan dilakukan dari jarak jauh asal ponsel kita terhubung ke jaringan internet.

“Smart farming itu adalah pengiriman dengan menggunakan teknologi, kebetulan yang sudah kita terapkan penyiraman dan pemanfaatan sumber daya energi listrik, yang biasanya kita gunakan PLN kini menggunakan pembaharuan yaitu panel surya,” ungkapnya.

Aston menyebut, banyak kelebihan yang didapatkan dengan menggunakan solar cell ini, salah satunya efisiensi energi listrik.

“Kelebihannya efisiensi penggunaan daya, yang selama inikan kita gunakan listrik PLN, kita bisa menghemat tanpa menggunakan daya PLN. Ekonomis dalam penggunaan daya,” sebutnya.

Meski demikian, dengan luasan urban farming yang ada di lokasi masjid ini, menurutnya harus ada 5 solar cell yang terpasang agar bisa memenuhi kebutuhan listriknya.

“Menghasilkan 250 watt, idealnya kapasitas seluruh ini 5 panel, karena ini baru prototype dari sisi penerapan teknologi ini bisa tepat guna kita baru menggunakan dengan skup terbatas, setelah diaplikasi bisa teruji, jika ini berhasil kita akan kerjasama dengan PT Len ditambah dayanya, sekarang satu buat penyiraman saja dalam radius 20 meter, sedangkan kita ada 200 meter kiri kanan,” jelasnya.

Indra Budi Utomo salah satu mentor PT Len untuk lokasi urban farming ini mengatakan, sumber listrik yang digunakan untuk penyiraman secara otomatis ini berasal dari energi matahari.

“Panel surya di sini sistemnya hybrid semua dikontrol melalui inverter listrik tenaga matahari, masuk ke inverter dan dikonsidikan masuk ke bank batre, nah dari bank batre itu ada output 220 volt. Ini digunakan untuk menggerakkan pompa ada dua pompa dari kolam resensi ke toren dan dari toren ke pompa pendorong untuk menyalurkan air,” ujar Indra.

Indra menuturkan, sumber listrik yang dihasilkan dari solar cell ini lebih ekonomis dibandingkan dengan menggunakan listrik PLN.

“Ini lebih ekonomis daripada naik kabel PLN, ini bisa diterapkan di mana saja untuk penggunanya. Ini bisa menjadi percontohan, kita manfaatkan kolam regensi dan menggunakan teknologi green energi ini,” tuturnya.

Dengan energi matahari, kebutuhan listri lebih hemat Foto: Wisma Putra

 

Indra juga menyebut, tidak perlu khawatir jika cuaca mendung karena ada bank batre maka ada sumber listrik yang tersimpan.

“Kalau enggak panas, contoh seperti ini kita punya safety faktor bank batre sebesar 1,2 KW, di mana pompa sendiri dia kapasitasnya 250 watt, sedangkan untuk penyiraman maksimal satu jam, artinya itu dari batre sendiri visa kuat 2-3 hari untuk jalan satu jam per hari, misalnya hari ini mendung tapi batre terisi hari kemarin ini tidak masalah,” paparnya.

Penerapan teknologi di lokasi urban farming diapresiasi Wali Kota Bandung Oded M Danial.

“Itu yang saya sangat banggakan, karena itu lahir dan terwujud atas ide warga Kota Bandung yang melek teknologi dan dilakukan langsung di wilayah masing-masing,” ujar Oded.

Oded meminta, agar warga Kota Nandung lainnya untuk menerapkan penggunaan teknologi di lokasi urban farmingnya.

“Saya berharap ini bisa direplikasi di wilayah lain, sehingga Bandung bisa menjadi kota, walaupun Bandung merupakan kota metropolitan tapi urusan urban farming nya keren,” pungkasnya.

 

(sumber: https://www.deik.com/)

Tinggalkan Balasan